| Mobile| RSS

Kusta Bukan Kutukan, Stop Diskriminasi

Jumat, 09 Oktober 2009 | posted in | 0 comments



Perlakuan terhadap penderita kusta masih sangat memprihatinkan. Penderita kusta seperti hidup di dunia lain karena dijauhi masyarakat yang takut ketularan penyakitnya. Padahal kusta penyakit yang tidak gampang menular.


Kelompok penderita atau bekas penderita kusta biasanya hidup bersama karena sulitnya mendapatkan penerimaan dari warga sekitar. Kusta atau lepra adalah kondisi medis yang menimpa jutaan manusia di dunia. Sebanyak 90 persen penderita kusta hidup di negara berkembang termasuk Indonesia.


"Kusta disebabkan oleh bakteri, yang bernama mycobacterium leprae. Bukan karena keturunan, kutukan, ataupun hukuman dari dosa," kata DR. AB. Susanto, Presiden dari Gempita (Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia & Dunia Tanpa Kusta) dalam siaran pers, Kamis (8/10/2009).


Diantara penyakit menular lainnya kusta termasuk sulit menular. Lebih 95% dari total penduduk dunia secara alamiah kebal terhadap penyakit ini. Diperkirakan penularan yang terjadi ada hubungannya dengan kondisi kekurangan gizi dan kemiskinan.


Namun setelah penderita kusta mengkonsumsi obat dari tenaga medis, maka dalam waktu 2 x 24 jam penderita sudah tidak menularkan penyakitnya lagi. Sayangnya saat ini masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadap penyakit kusta, sehingga mengakibatkan diskriminasi terhadap penderita kusta di masyarakat.


Maka itu Gempita giat mengampanyekan stop diskriminasi terhadap kusta. 'Kusta bisa sembuh!' Hal inilah yang ditekankan pada acara sosialisasi informasi kusta.


"Apabila Anda menemukan bercak putih pada tubuh anda, periksalah dengan menusuknya, apabila 'mati rasa' (kebas) waspadai kusta! Segeralah periksakan diri anda lebih lanjut di Puskesmas terdekat. Walaupun seandainya ternyata memang benar-benar gejal kusta, jangan khawatir karena kusta bisa sembuh dengan multydrugtherapy (MDT)," kata DR. AB Susanto.


Sosialisasi ini dilakukan sebagai suatu rangkaian dari Gerakan Indonesia dan Dunia Tanpa Kusta. Karena apabila diobati dini, kusta tidak akan membekas ataupun menyebabkan cacat fisik. Mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia dan Dunia Tanpa Kusta.


Lepra adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman tahan asam yaitu Mycobacterium Leprae. Gejala lepra antara lain:
1. Timbul bercak atau benjolan dengan rasa tebal atau mati rasa, kadang ada keluhan nyeri pada lengan dan tungkai, sendi-sendi, demam, pilek dan mata procos.


2. Lesi kulit yang khas (bercak/plak/hipopigmentasi/ eritematosa, papul atau nadul).


Cara penularannya dari manusia ke manusia melalui droplet atau udara. Penyebaran penyakit ini karena kontak lama dengan penderita dan orang yang kekebalan tubuhnya menurun menjadi incarannya. Faktor utama penularannya adalah karena gizi buruk yang mengakibatkan kerusakan sistem imunitas tubuh.


Pengobatan penyakit kusta membutuhkan waktu 6-12 bulan. Diperlukan kombinasi 2-3 jenis obat yang diminum secara teratur. Kuman penyebab kusta ini sama dengan kuman penyebab tuberkulosis. Obat yang digunakan saat ini antara lain rifamfisin, dapsone dan clofaziminie.


Untuk mengetahui penderita kusta sudah sembuh atau belum dapat dilakukan pemeriksaan secara umum oleh dokter dan pemeriksaan darah tertentu serta yang terpenting pemeriksaan kuman penyebabnya.(detikHEALTH)

0 Responses So far

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails

Berita Terbaru

Komentar Terakhir

Popular Post

Masa

Blog Archive

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Twitter