| Mobile| RSS

Cara Orang Jepang Selamat dari Gempa



B
encana gempa yang terjadi secara terus-menerus di Indonesia seharusnya cukup untuk menyadarkan masyarakat, betapa rentannya wilayah kita terhadap bencana.

Kita harus lebih waspada. Tak ada salahnya kita belajar dari Jepang, negara yang terlalu sering diguncang gempa, memiliki lebih dari 100 gunung api, dan dihajar topan tiap tahunnya. Hidup dalam ancaman kematian adalah kodrat masyarakat Jepang.

Namun, mereka tak menyerah. Pengalaman menghadapi bencana dahsyat dan kesadaran adanya ancaman gempa membuat pemerintah dan masyarakat negara matahari terbit itu melakukan persiapan menghadapi bencana yang lebih baik dari negara lain.

"Jaman dulu, kondisi Jepang seperti Asia Tenggara ketika diterjang bencana," kata Guru Besar Universitas Gunma, sekaligus kepala laboratorium penelitian bencana, Profesor Toshitaka Katada, seperti dimuat laman Manila Bulletin.

"Ribuan orang tewas setiap tahun. Itu terus terjadi sampai sekitar 50 tahun lalu," tambah dia.

Pemerintah Jepang lalu bertindak. Sejak bencana angin topan 1959 yang menewaskan 5.000 orang, angka kematian turun menjadi ratusan dan bahkan belasan. Perkecualian, bencana gempa di Kobe tahun 1995 yang menewaskan 6.400 orang.

Pasca bencana Kobe, kewaspadaan dan kesiagaan makin ditingkatkan. "Pemerintah selalu berusaha melindungi warga dari bencana, sebagai wujud pertanggungjawaban negara," kata dia.

Bentuk pertanggungjawaban juga diwujudkan dengan membangun tanggul di sungai-sungai, dan membangun tembok pelindung banjir dan longsor, bahkan tsunami.

Tak hanya itu, pelatihan bencana dilakukan secara serius. "Sekitar 795.000 orang, termasuk perdana menteri, ikut dalam simulasi bencana tiap tanggal 1 September, di hari yang sama pada tahun 1923 terjadi gempa dahsyat Kanto yang menewaskan 140.000 orang di Tokyo," tambah Katada.
Jepang punya sistem peringatan dini paling baik di dunia. Selain itu, pemerintahan yang baik dan penegakan hukum juga jadi faktor krusial yang menyelamatkan jiwa masyarakat Jepang. Maksudnya?

"Kemungkinan kecil gedung sekolah atau rumah sakit rubuh saat gempa. Sebab, fasilitas publik dibangun tanpa ulah nakal dan korupsi para penyelenggara negaranya."

Berikut cara orang Jepang menyelamatkan diri dari gempa, yang tentu saja patut kita tiru:

1. Masyarakat Jepang rajin melakukan pelatihan bencana. Di dekat pintu, mereka mempersiapkan ransel yang berisi air botolan, makanan kering atau makanan kalengan, obat-obatan P3K, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa baterai pengganti.

Masyarakat bisa menambahkan suplemen, kacamata, obat-obatan khusus, atau makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa bahkan dijual di supermarket.

2. Pelatihan menghadapi bencana dilakukan secara rutin, bahkan dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar.

3. Kekayaan Jepang sebagian diinvestasikan untuk membangun gedung dan infrastruktur tahan gempa. Mahal memang, tapi menurut ahli, kebijakan ini terbukti telah menyelamatkan ribuan jiwa.

4. Pemerintah daerah atau pemerintah lokal dilatih secara khusus untuk mengumumkan terjadinya bencana dan melakukan evakuasi secara cepat. Mereka juga dilatih untuk mendistribusikan makanan dan selimut di tempat-tempat penampungan.

5. Masyarakat Jepang tahu mereka harus melindungi kepala dengan meja yang kuat, agar tidak kejatuhan benda-benda keras. Lalu, di bawah lindungan meja, itu, dengan cepat mereka mematikan aliran gas, dan memastikan pintu tetap terbuka untuk mengurangi resiko terjebak di antara reruntuhan.

6. Penduduk Jepang dianjurkan menyimpan sepatu di bawah tempat tidur dan sepeda di halaman. Sepatu untuk mengamankan kaki dari pecahan kaca. Sedangkan sepeda adalah alat transportasi yang paling tepat saat gempa.

7. Masyarakat Jepang mengaktifkan peringatan gempa di telepon genggamnya. Anak-anak di sekolah memiliki pelindung kepala tahan api di mejanya masing-masing. Tak hanya itu, simulator gempa canggih juga digunakan untuk membiasakan anak-anak dengan getaran gempa.

8. Pemerintah Jepang memastikan pusat energi nuklir dan kereta listrik akan mati secara otomatis ketika bumi bergetar dalam batas tertentu.

Jumat, 09 Oktober 2009 | posted in | 0 comments [ Selanjutnya ]

Pengusaha Yahudi Incar Al Jazeera


DOHA - Seorang taipan media Israel berniat membeli jaringan televisi satelit Al Jazeera dari Pemerintah Qatar. Haim Saban telah mengajukan penawaran kepada Pemerintah Qatar untuk membeli separuh dari jaringan satelit Al Jazeera yang berbasis di Doha.

Surat kabar Mesir al-Mesryoon melaporkan bahwa miliarder Israel itu kini terlibat negosiasi dengan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani mengenai pembelian sebagian outlet media itu. Pembicaraan akan dilakukan melalui mediasi Mesir.
Dikutip dari Press TV, Jumat (9/10/2009), kabar itu muncul di tengah-tengah laporan bahwa saluran berita Arab terbesar dan paling kontroversial di Timur Tengah itu tengah bergulat dengan krisis keuangan yang buruk. Saban sebelumnya telah membuat penawaran untuk membeli Al Jazeera pada 2004, namun ditolak.

Seban menurut dugaan mengajukan penawaran USD5 miliar bagi saluran berita populer berbahasa Arab itu, dalam upaya untuk menguasai dan menyiarkan pesan-pesan pro-Israel sehingga dapat mempengaruhi opini Arab terhadap rezim garis keras Tel Aviv yang dipimpin Benjamin Netanyahu.

Al Jazeera menghadirkan revolusi media di dunia Arab setelah didirikan pada 1996. Jaringan itu memperoleh sumbangan keuangan, diperkirakan mencapai USD70 juta per tahun, namun tanpa siaran yang mengkritik Pemerintah Qatar. Namun begitu, Al Jazeera menyiarkan sejumlah program yang mengkritik seluruh pemerintahan Arab.

S
aban mencapai keuntungan besar dengan membeli hak memasarkan tayangan anak Jepang The Power Rangers di Amerika. Dia adalah pendukung setia Israel dan pemerintahan sayap kanan Netanyahu. Sebagai tambahan, pengusaha Yahudi kelahiran Mesir ini dikenal dengan transaksi di bawah mejanya.(Okezone)

4 Kejahatan Terjadi Tiap Detik di Internet

Menurut hasil pantauan Symantec, kejahatan yang terjadi di dunia maya jauh lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi di dunia nyata.

Sebagai gambaran, dari data yang dikumpulkan Symantec tahun lalu, di Jakarta terjadi 1 kejahatan tiap 9 menit. Di New York, kejahatan terjadi setiap 3,5 menit. Di Tokyo, terjadi tindak kriminal setiap 2,5 menit. Sementara di Berlin, pelaku kejahatan beraksi setiap 2 menit.

“Jumlah kejahatan yang terjadi di kota-kota besar di seluruh dunia itu tidak sebanding dengan kejahatan yang terjadi di dunia maya,” kata Effendy Ibrahim, Norton Business Lead, Asia South Region, Symantec, pada peluncuran Norton 2010 di Jakarta, 8 Oktober 2009. “Symantec mencatat, satu cybercrime terjadi setiap 0,25 menit. Atau 4 kejahatan per menit,” ucapnya.

Demikian pula dari sisi korban. Sebagai gambaran, satu dari 42 juta orang berpotensi digigit ular. Satu dari 2,6 juta orang, berpeluang tersambar petir. Satu dari 300 orang mengalami kecelakaan lalulintas, sementara satu dari 31 orang pernah mengalami pencurian di rumahnya. Bagaimana dengan korban pencurian informasi atau kejahatan di Internet?

“Dari penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, yang hasilnya juga serupa dengan penelitian yang dilakukan di Australia, ternyata 1 dari 5 pengguna internet telah menjadi korban kejahatan,” kata Effendi.

Effendi menyebutkan, sikap pengguna yang tak acuh dan tidak mempedulikan akan bahaya yang banyak mengintai merupakan penyebabnya.

“Mereka tidak peduli sehingga mereka tidak menginstall software keamanan, memakai software bajakan, atau software keamanan murah atau bahkan gratisan,” kata Effendi. "Software bajakan dan software keamanan gratisan memang bisa melindungi. Tapi itu tidak cukup,” ucapnya.

Dengan semakin canggihnya metode serangan saat ini, Effendi menyebutkan, pengguna komputer membutuhkan lebih dari sekadar antivirus.(Vivanews)

Forefox Bisa Cegah Serangan di Internet

Mozilla mengungkapkan bahwa mereka akan memasang teknologi yang dapat membantu Firefox menghentikan serangan keamanan berbasis Internet.

Menurut Mozilla, teknologi bernama Content Security Policy (CSP) tersebut merupakan teknologi dengan spesifikasi yang dibuat Mozilla. Tujuannya agar situs dan pengembang aplikasi dapat menentukan konten di situsnya ataupun aplikasinya yang sah.

Teknologi ini juga akan memblokir setiap script ataupun kode perusak yang telah ditambahkan oleh hacker yang berhasil menembus situs ataupun aplikasi yang bersangkutan.

“Ini bukan trik yang dibuat untuk mengatasi satu jenis serangan,” kata Johnathan Nightingale, Manager Front-end Development Team, Mozilla, seperti VIVAnews kutip dari PC Advisor, 9 Oktober 2009. “Ini dapat membantu situs-situs mengatasi masalah corss-site scripting, tetapi lebih dari itu,” ucapnya.

Nightingale menyebutkan, mereka kini memiliki cara untuk mematikan apapun yang dinamis, sehingga apapun konten yang ditambahkan ke situs, jika itu ada di halaman dan mereka mengirimkan sesuatu di bagian header, akan ditutup.

Firefox memperkenankan pengembang aplikasi dan situs untuk memisahkan konten yang sah dan konten yang terlarang. Dengan CSP, Firefox akan mempersilahkan konten sah untuk dijalankan, dan memblokir konten yang berbahaya.

A
wal tahun ini, Eric Lawrance, seorang Program Manager di tim Microsoft Internet Explorer menyebutkan bahwa CSP merupakan ide yang bagus dan merupakan pendekatan yang menjanjikan. Meski begitu ia tidak menyebutkan apakah Microsoft akan mendukung teknologi serupa pada browsernya.(Vivanews)

Krisis Ekonomi Berdampak Baik Pada Kesehatan

WASHINGTON - Dampak dari krisis ekonomi tidak selamanya buruk. Kenyataannya, para peneliti di AS menyebutkan bahwa resesi ekonomi dapat berdampak baik pada kesehatan.

Masa sulit yang harus dihadapi saat krisis ekonomi mau tidak mau memaksa orang mengurangi dan mengubah kebiasaan buruk mereka seperti mengonsumsi alkohol, merokok dan mengonsumsi makanan secara berlebih.

Medline Plus, Jumat (9/10/2009) melansir, data survei yang dilakukan para peneliti dari University of Michigan menyebutkan, angka harapan hidup pada saat terjadi resesi ekonomi justru mengalami peningkatan.

Sebagai contoh, pada resesi yang terjadi pada periode 1929 hingga 1932, rata-rata angka harapan hidup masyarakat meningkat sekira 6 tahun dari rata-rata 57 tahun menjadi 63 tahun. Sementara angka kematian akibat penyakit, kecelakaan dan kematian bayi menurun tajam.

Menurunnya tingkat kematian ini disebabkan karena selama masa resesi hanya ada sedikit pekerjaan yang bisa dilakukan karyawan. Umumnya, mereka bekerja lebih lambat sehingga lebih banyak waktu untuk tidur. Kesulitan ekonomi juga membuat menahan diri untuk bergaya hidup mewah dan membuang uang dengan membeli alkohol dan rokok.

Sebaliknya, angka kematian meningkat dan harapan hidup menurun ketika ekonomi mengalami pertumbuhan besar seperti yang terjadi pada tahun 1923, 1926, 1929 dan 1936 - 1937.

Jose Tapia Granados peneliti dari University's Institute for Social Research menyebutkan penemuan ini berlawanan dengan anggapan sebagian besar orang yang mengatakan bahwa masa resesi dengan tingkat pengangguran yang tinggi bisa berdampak buruk pada kesehatan.

"Selama masa pertumbuhan ekonom yang pesat, perusahaan menjadi sangat sibuk dan mereka biasanya menuntut usaha yang lebih keras dari karyawannya. Hal ini dapat memicu stres, hal ini membuat karyawan kemudian melampiaskannya dengan banyak minum dan merokok," kata Jose.

Jose pun kemudian menambahkan bahwa perluasan di bidang ekonomi membuat arus lalu lintas semakin ramai dan memicu banyak terjadi kematian akibat kecelakaan. Angka kecelakaan kerja juga meningkat karena umumnya pada masa ekspansi ekonomi banyak perusahaan menggunakan tenaga kerja yang belum berpengalaman. (Okezone)

Setiap Hari 1 Miliar Video Dilihat Via YouTube


YouTube mengklaim, dalam sehari sebanyak 1 miliar video telah dilihat di situs ini. Mereka pun merayakannya dengan mengubah sedikit penampilan YouTube.

Prestasi tersebut jelas membuat Google bangga. Bahkan dalam logo YouTube di situsnya, perusahaan mesin pencari terbesar yang telah membeli YouTube beberapa tahun lalu ini langsung memberikan notifikasi 'YouTube 1 BN' atau '1 billion views per day'.

Saat ditelusuri okezone, Jumat (9/10/2009), selain memberikan notifikasi pada logo tersebut, YouTube juga telah membenahi tampilan situsnya. Selain mempertahankan Most Popular, Videos Being Watched Now, dan Featured Video, YouTube menambahkan kotak Spotlight yang isinya merupakan satu tema video yang paling disukai oleh para pengunjung.

Perubahan ini dilakukan seiring dengan niat YouTube untuk menjajakan beberapa film milik rumah produksi dan stasiun televisi ternama Hollywood. (Okezone)

123456, Password Paling Banyak Digunakan

Beberapa waktu lalu, bocor di Internet bahwa 10 ribu password pengguna akun email Hotmail dicuri. Pencurian password juga ternyata kemudian meluas sampai ke pengguna Google dan Yahoo.

Dari 10.028 alamat e-mail hotmail yang dibagikan, sebanyak 9.843 di antaranya merupakan akun e-mail yang valid. Ada 90 persen pengguna yang memakai password yang unik.

Password terpanjang yang ditemukan adalah sepanjang 30 karakter yakni lafaroleratropezoooooooooooooo dan pasword terpendek adalah 1 karakter, yakni ).

Sejumlah 10 persen dari password yang berhasil diketahui bukan password unik. Ada 64 akun yang menggunakan 123456 sebagai passoword. Itulah password yang paling laku. Di urutan kedua 12345678 yang digunakan 18 orang. Password alejandra, yang digunakan 11 orang di urutan ketiga.

Dari data yang didapat, Bogdan juga mengelompokkan password berdasarkan jumlah karakter. Panjang password yang paling banyak dipilih adalah 6 karakter, yakni 22 persen. Sebanyak 21 persen menggunakan 8 karakter dan 14 persen menggunakan 7 karakter.

“Dari daftar dapat dilihat bahwa mayoritas pengguna memakai password yang buruk. Sebanyak 42 persen hanya menggunakan karakter alfabet dan 19 persen menggunakan karakter numerik saja,” tulis Bogdan Calin, seperti VIVAnews kutip dari Acunetix, 9 Oktober 2009.

“Hanya 6 persen dari seluruh password yang bocor mengandung kombinasi antara alfa numerik dan karakter khusus lainnya,” sebut Calin.(Vivanews)

Related Posts with Thumbnails

Berita Terbaru

Komentar Terakhir

Popular Post

Masa

Blog Archive

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Twitter